14/04/2021
Kisah Pria Jepang yang Dibayar untuk Tidak Melakukan Apa-apa

Kisah Pria Jepang yang Dibayar untuk Tidak Melakukan Apa-apa

Kisah Pria Jepang yang Dibayar untuk Tidak Melakukan Apa-apa

Hidup sebenarnya ada-ada saja. Seorang pria di Jepang mencapai berhasil hanya bersama tidak lakukan apa-apa. Pria bernama Shoji Morimoto itu membangun karier yang berhasil bersama menyewakan dirinya untuk tidak lakukan apa-apa.

Hanya dalam saat dua tahun, Morimoto menjadi seorang selebriti di Jepang. Dia miliki lebih berasal dari 270 ribu pengikut di Twitter, tampil di sejumlah program televisi, kisahnya dibagikan di sejumlah majalah, dan buku-bukunya terjual.

Morimoto membangun kesuksesannya di atas sarana yang terhadap dasarnya mengharuskan dia untuk tidak lakukan apa-apa, tak sekedar bersua orang secara acak, mendengarkan cerita mereka, atau hanya secara fisik berada di dekat orang-orang yang membutuhkan.

Morimoto hanya menyewakan dirinya terhadap orang asing dan memberi mengetahui mereka di awalnya bahwa dia tidak sanggup lakukan apa-apa tak sekedar makan, minum, dan bergaul.

Mengutip News Beezer, Morimoto di awalnya adalah perumpamaan seorang siswa teladan. Dia selalu memperoleh nilai akademik yang bagus. Dia bahkan sudah memperoleh gelar master di bidang fisika berasal dari Osaka University yang bergengsi.

Morimoto sempat menjadi seorang editor buku. Setelah tiga tahun bekerja sebagai editor, dia berhenti dan mengetahui bahwa itu bukan-lah karier yang diinginkannya.

Karya-karya filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche, memengaruhinya untuk kembali berkhayal hidupnya. “Saya melanjutkan sekolah ke pascasarjana sebab orang-orang di kira-kira aku lakukan itu. Saya terhanyut tanpa berpikir, aku jarang hidup atas inisiatif aku sendiri,” kata Morimoto.

Pada Agustus 2018, Morimoto akhirnya mengakses sarana pribadinya terhadap publik. Morimoto mempersilakan siapa saja yang perlu kehadirannya sebagai rekan yang sanggup mendengarkan segala keluh kesah, rekan menikmati bunga sakura, atau apa pun. Klien hanya dikenakan ongkos transportasi dan makanan-minuman kecuali ada.

Ide cerdik Morimoto ini populer di sarana sosial. Dia kemudian dibanjiri oleh keinginan orang asing. Saat ini, bisnis yang dijalaninya terjadi lumayan baik. Dia pergi ‘bekerja’ terhadap pukul 8.30 pagi dan kembali ke rumah terhadap pukul 10.00 malam.

Layanan Morimoto ini diberikan secara gratis. Hanya saja, sebagian orang bersikeras untuk menambahkan bayaran ekstra untuk saat yang sudah diberikan Morimoto.

Morimoto sendiri sempat membagikan pengalamannya menemani orang-orang. Salah satunya saat dirinya diundang ke sebuah hotel bintang lima oleh seorang pria paruh baya. Pria itu tak miliki kepentingan apa-apa singgah ke hotel, hanya sekadar hobi. Pria itu perlu Morimoto untuk mendengarkan ceritanya perihal hobi-hobinya. Morimoto hanya mendengarkan cerita si pria sepanjang tiga jam.

Bisnis menyewa orang sebenarnya lumayan pesat di Jepang. Bisnis ini berkembang seiring kehidupan orang-orang masa kini yang kian sibuk.

Pada dasarnya, tiap tiap manusia miliki keinginan untuk ditemani dan didengarkan. Namun, sering kali berbagai aktivitas yang terjadi memicu keperluan bakal didengarkan itu menjadi sirna.

Mengutip laman The Emotion Machine, saat perasaan menginginkan didengarkan itu tak sanggup tercapai, seseorang bakal bersama ringan menjadi kesepian, stres, sedih, atau bahkan marah.

Sebuah belajar yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Physchology menemukan bahwa saat individu diberi kesempatan untuk sharing cerita dan pengalaman bersama orang lain, hal itu sanggup mendukung menaikkan suasana hati.

Saat seseorang tak sanggup menyalurkan apa yang ada dalam pikirannya, sering kali hal berikut menyebabkan konsekuensi negatif bagi orang lain. Merasa didengarkan dan ditemani mutlak bagi kebugaran mental.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *